May 13, 2015

cerita si Tebing Keraton

Memang si Tebing Keraton menjelma menjadi one of instagramable place di Bandung udah sekitar 2 tahun yang lalu, tapi baruuuu sekarang bisa mendarat kesini. Alasannya banyak, cari waktu susah, ga ada duit, long weekend pasti rame dan apalah apalah. Padahal mah emang males aja kalo rame banget, takut dibilang hipster (padahal alesannya karena ga bisa foto dengan leluasa ). Jadilah, dengan berbekal voucher 101 Dago Hotel dari dek Mutya dan selembar kertas izin cuti, kita berangkat ke Bandung!



Dengan 2 motor, Sabtu sekitar jam 6 kita udah jalan menyusuri Dago menuju Taman Hutan Juanda yang jadi patokan ke Tebing Keraton. Sempet nyasar gara gara WaZe ngasih jalan ngaco yang udah g bisa diakses lagi. Menuju Tebing Keraton ;
  1. Dari McD Simpang Dago lurus terus ke arah Sheraton sampai melewati Dago Tea House dan Terminal Dago.
  2. Tidak jauh dari Terminal Dago, ada jalan bercabang. Yang ke kiri menuju Dago Giri, yang ke kanan ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN.
  3. Dari sana beberapa ratus meter ada cabang lagi. Yang kiri ke Dago Bengkok. Yang kanan masih ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN.
  4. Beberapa ratus meter dari sana, dekat Indomaret di sisi kiri jalan, ada belokan ke kiri ke arah Tahura (Taman Hutan Raya) Ir. H. Juanda. BELOK KIRI. Kalau lurus terus nanti bablas ke daerah cafe-cafe seperti belokan ke Sierra, dan Stone Cafe.
  5. Jalanan menanjak beberapa ratus meter, di sebelah kiri ada gerbang masuk dan tempat parkir luas untuk Tahura, masih lurus terus.
  6. Tidak jauh dari sana ada jalan bercabang di dekat warung. Jalanan ke kanan ada tulisan Bukit Pakar Utara. BELOK KANAN.
  7. Dari sini jalanan makin menanjak dan kondisinya rusak sekali. Aspalnya sudah banyak yang habis sehingga permukaannya berbatu-batu. Jalanan akan melewati hutan di sisi kiri. Terus sampai ada cabang. AMBIL YANG KIRI. Di sana ada papan sementara yang bertuliskan ‘Tebing Keraton’ serta anak panah ke kiri.
  8. Di sini juga jalanannya rusak. Buat yang suka bersepeda mungkin tahu yang namanya Warung Bandrek, di sana banyak cyclist yang suka kumpul-kumpul. Sudah sampai? Oh… belum!
  9. Dari sana jalan terus, di kanan mulai tampak pemandangan bukit-bukit hijau serta rumah-rumah di lereng bukit. Tak berapa lama kemudian akan tampak pemukiman warga. Jalanan akan terlihat berbelok ke kanan, ikuti jalan terus sampai habis pemukiman warga.
  10. Tidak jauh dari sana ada belokan ke kiri yang agak curam. BELOK KIRI. Di belokan itu ada papan penunjuk sementara.
  11. Hanya sekitar 100 meter terakhir, jalanan sangat curam dan berbatu-batu. Tak lama kemudian ada warung di sebelah kanan dan di sisi kiri banyak deretan motor yang diparkir. Sudah sampai? Iya….motornya harus diparkir di sana. Terus Tebing Keraton-nya di mana?
  12. Sesudah parkir, jalan ke arah bukit di bawah. Tidak jauh koq, tidak sampai 5 menit (sekitar 100 meter) dan track-nya sama sekali tidak berat. Cuma jalan-jalan lucuk saja 
 SAMPE!!!



 Dari post parkiran mobil sebenarnya masih agak naik lagi ke atas, tapi disana kita nyerah. Motornya ga kuat, jalan nya terlalu terjal, berbatu dan licin. Banyak yang memilih lanjut dengan jalan kaki keatas.But, no thankyou karena emang anaknya malesan, mau ga mau kita sewa ojek PP 40rb. Ternyata udah ada yang kemping dari jam 2 pagi disana demi menangkap matahari terbit. Memang sebaiknya berangkat sebelum jam 7. Karena udaranya masih enak dan sinar mataharinya bagus buat difoto. kalau udah diatas jam9 ya siap siap mengernyit karena silau dan kepanasan. Tebing Keraton? Checked!